Belajar Surfing di Pulau Merah

8:51 AM D.I.A.N 0 Comments



Saya selalu mengagumi para surfer yang bisa bergerak menari indah diatas laut. Berdiri diatas papan dan menjaga keseimbangan tubuh diatas lengkungan ombak bukanlah suatu hal yang mudah. Saya pernah mendengar bahwa selancar adalah olahraga yang harus dipelajari seumur hidup. Itu yang saya dapatkan ketika saya bertanya butuh waktu berapa lama agar saya bisa berselancar seperti mereka."Saya tidak bisa mengakumulasikan waktu yang kamu butuhkan jika kalian ingin menjadi peselancar, berselancarlah secara rutin", jawab mereka. Wah mungkin kalau saya tinggal di tepian pantai pastinya saya bisa belajar surfing secara rutin atau bisa melihat langsung para surfer yang sedang beselancar. Sebenarnya yang membuat pertama kali olahraga ini menarik bagi saya karena suka melihat para surfer-nya yang kece2 :p. Mereka mempunyai pesona tersendiri (nah loh).  Kulit mereka yang kecoklatan karena sering terbakar sinar matahari dan badan yang terbentuk karena seringnya melakukan paddle saat mencari ombak. Siapa yang tidak akan bilang "wow gitu"? Banyak sekali surfer terkenal di Indonesia saat ini yang patut diacungi jempol. Beberapa idola saya seperti Dede suryana, Tipi Jabrik dan Marlon Gerber mempunyai kemampuan yang telah diakui di Indonesia maupun mancanegara.


Marlon Gerber Salah satu surfer favorit saya


Bicara tentang pantainya, Indonesia memiliki spot ombak yang menggiurkan untuk dijajal para penggila olahraga surfing. Banyak para surfer mancanegara yang datang ke Indonesia yang khusus datang hanya untuk hunting ombak. Di Jawa sendiri, pulau tempat tinggal saya saat ini, memiliki 2 pantai yang saya ketahui sering dijadikan tempat berselancar yaitu Pantai Pangandaran di Jawa Barat dan pantai G-Land di Jawa Timur. Untuk pantai G-land sendiri yang letaknya di kota Banyuwangi dikhususkan bagi peselancar profesional saja, karena besarnya ombak dan kontur karang yang berada di pantai tersebut tidak memungkinkan bagi pemula untuk belajar disana. Tapi kalian yang ingin belajar surfing tidak perlu khawatir karena ada spot lain di Banyuwangi dengan ombak lebih bersahabat yaitu di pulau Merah. Jangan berpikir pulau merah adalah salah satu pulau berwarna merah di Indonesia. Pulau Merah atau orang jawa kerap kali bilang Pulo Merah adalah sebuah objek wisata pantai yang berada di Pesanggrahan, Banyuwangi. Keberadaan bukit kecil bertanah merah itulah yang kemudian dijadikan pantai tersebut bernama Pulau Merah. Akhir-akhir ini kegiatan berselancar di Pulau Merah sedang digalakkan. Itu bisa saya lihat ketika saya berada disana banyak papan sufing yang disewakan dan beberapa peselancar yang sedang berselancar. Bulan Mei 2013 tahun lalu memang pernah diadakan Kompetisi Selancar Internasional yang digelar oleh pemeritah Banyuwangi. Hal ini dirancang oleh bupati Anas untuk mengabungkan antara olahraga dan potensi wisata di Banyuwangi.

Pertama kali saya akhirnya bisa belajar surfing yaitu ketika saya menge-post sebuah ajakan berselancar bareng di grup Couchsurfing Surabaya facebook. Dan kemudian ada salah satu anggota CS dari Surabaya yang ternyata sering surfing di Pulau Merah. Kebetulan kala itu saya akan pulang ke kampung halaman di Glenmore. Sehingga kesempatan itu saya manfaatkan untuk belajar berselancar. Saya juga mengajak seorang teman  yang juga tinggal di sama kota yaitu Leah. Kami berangkat kesana mengendarai motor dari rumah saya. Butuh waktu 2 jam untuk mencapai Pulau Merah dari Glenmore. Sesampainya disana kami mencari mas Ade yang sebelumnya sudah janjian dengan kami. Dan ternyata dia berselancar dengan beberapa teman dari Malang. Yang saya ingat namanya hanya mas Fajar dan Yayan lainnya lupa (maaf :p). Setelah berkenalan saya dan Leah mencari ruang ganti baju. Ada kejadian sial yang saya alami ketika saya ganti baju. Karena tempat untuk ruang ganti lumayan agak jauh maka saya dan Leah berinisiatif jajan di sebuah warung yang kemudian kami bisa minta ruang untuk numpang ganti baju. Yang akhirnya disediakan oleh penjual diruang berpintu tapi tidak ada kuncinya. Saya sudah titip pesan ke pegawainya bahwa saya berada didalam untuk ganti baju sialnya pegawai lain tidak mengetahui saya sedang berada didalam dan akhirnya kejadian memalukan terjadi. Pegawai itu melihat saya sedang ganti bajuuuuuu T.T , bisa dibayangin betapa malunya saya ketika keluar dari ruang ganti kemudian berpapasan dengan pegawai tersebut. Seperti kata Dee Lestari siratkan di salah satu novelnya "Dunia Sudah Tidak Aman lagi Untuk Dian". Tapi untung saja saya tidak sedang telanjang bulat.

Mas Ade orang yang asik dan sabar ketika mengajari kami surfing. Ketika saya takut, capek dan mulai menyerah karena sulit sekali berdiri diatas papan dia selalu menyemangati kami untuk terus belajar dan tidak menyerah untuk mencoba lagi dan lagi. Teknik pertama yang dia ajarkan yaitu paddle yaitu mengayuh ke tengah pantai untuk mencari ombak. Ketika itu cuaca sangat bersahabat dan saya bersemangat sekali melakukan olah raga ini. Saya juga bertemu dengan peselancar lain bernama kang Sule dan mas Anang orang Banyuwangi asli yang bersemangat sekali mengajarkan kami berselancar dan mensosialisasikan olah raga ini kepada masyarakat Banyuwangi. target yang ingin mereka rangkul adalah anak-anak Banyuwangi. Saya bisa melihat betapa antusiasnya mereka ingin mengembangkan olahraga tersebut dengan potensi wisata di daerah mereka. Arghh...sayang sekali waktu begitu cepat, hari sudah mulai malam ketika kami sedang asyik ngobrol tentang surfing. Dan artinya kami harus segera pulang.


Menikmati Sore setelah lelah berselancar di Pulau Merah
Leah bilang ada ayam pedas enak didekat pantai tersebut. Hmmm... perut yang sudah lapar dan tenaga yang terkuras setelah berselancar membuat kami tidak sabar untuk menyantap makanan apapun. Kami mencari lokasi yang Leah rekomendasikan kepada saya. Akhirnya kami menemukan warung Ayam Pedas Mbok Woh khas. Yang berbeda dari dengan Ayam Pedas Rantinem di Genteng yaitu cara penyajiannya. Diwarung ini kami disajikan satu porsi ayam pedas dengan beberapa potong ayam dan telur dan nantinya akan dihitung berapa potong yang kami ambil. Yang khas dari ayam pedas ini adalah perpaduan antara ayamnya yang sedikit dibakar dan kuah pedasnya yang mantabb membuat sajian masakan Ayam Pedas Mbok Woh ini begitu sedap. Sebenarnya waktu itu saya ingin menghabiskan seporsi mangkuk yang disajikan tetapi karena saking pedasnya saya menyerah sodara-sodara. Bagi kalian penggemar masakan pedas jangan lupa coba sensasi pedassssnya Ayam Pedas Mbok Woh (fotonya menyusul ya :p).





0 comments: